Radang Usus Dua Belas Jari, Lambung Terstimulasi Histamin

Ada sebuah penelitian menarik. Hasil penelitian tersebut dilakukan 3 jam setelah subyek penelitian makan. Hasil perbandingan antara subyek normal dengan subyek penderita luka pada usus dua belas jari. Pada penderita luka usus dua belas jari pengeluaran awal asam sangat tinggi dan puncaknya saat asam lambung terstimulasi histamin. Hasilnya?

Setelah 2 jam ketika makanan dicerna, baik pada pH 5.5 dan 2.5, lambung pasien penderita luka tersebut mengeluarkan banyak asam pada pH 2.5 dibanding dengan subyek normal pada pH lambung 5.5. Tidak ada perbedaan yang terlalu kentara pada konsentrasi gastri di awal percobaan, keduanya hilang baik pada subyek normal dan penderita luka usus dua belas jari pada pH 2.5 dan responnya pun tidak terlalu berbeda pada pH 5.5. Korelasi antara sekresi asam dan respon serum gastrin terlihat sangat jelas. Terjadi perubahan pada serum gastrin pada kedua subyek penelitian pada pH 5.5.

Metode penelitian yang dilakukan adalah,

1. Subyek.
Subyek penelitian kali ini adalah tujuh orang normal dan enam orang penderita luka pada usus dua belas jari. Subyek dengan luka pada usus dua belas jari tersebut memiliki catatan lengkap, dan belum pernah menderita komplikasi apapun seperti pendarahan (perforasi), belum pernah ditemukan adanya gangungan lambung atau masalah lambung sebelumnya.

2. Tes Makanan. Memilih jenis makanan yang akan diteliti dengan tingkat pH yang berbeda. Pada penelitian ini dihindari adanya substansi seperti protein yang bisa dicerna pada level pH rendah oleh lambung.

3. Pengukuran Sekresi Asam Lambung. Prosedur penyerapan dalam lambung dijelaskan pada penelitian tersebut. Subyek penelitian harus puasa terlebih dahulu semalam sebelum dilakukan penelitan. Makanan dimasukkan ke dalam perut melalui selang yang dimasukkan ke dalam hidung. pH asam lambung diukur dengan menggunakan Sargent pH meter.

4. Serum Gastrin.
Pengukuran serum gastrin yang keluar dilakukan dengan mengambil contoh darah selama periode awal setelah makan.

Dalam penelitian tersebut memperlihatkan kerusakan pada sistem autoregulasi sekresi asam dan pelepasan gastrin pada pasien dengan penyakit luka pada usus dua belas jari kronis. Kesalahan ini merupakan kegagalan untuk menghasilkan tekanan yang dibutuhkan untuk mencerna pada pH 2.5, tingkat keasaman yang biasa ditemukan pada lambung baik pada subyek normal maupun subyek dengan penyakit luka pada usus dua belas jari.

Dua batasan penelitian ditentukan yaitu mengukur tingkat keasaman dengan makanan dan dari penyerapan makanan dalam lambung. Pertama, pada pH lebih rendah dari 2.5, metode penyerapan makanan tidak mengindahkan sekresi asam lambung. Pada teknik ini, sekresi asam saat merespon makanan tidak bisa diteliti pada tingkat keasaman yang lebih tinggi. Kedua pada pH rendah, tindakan enzim pepsin pada seluruh protein dan menciptakan hormon polypetides tambahan zat penyangga dari makanan berprotein. Tambahan zat penyangga tersebut menetralkan asam dan memproduksi asam pada tingkatan yang rendah. Karena itu, sebuah stimulan dipilih, pilihan mereka adalah asam amino dalam tepung kanji jagung (cornstarch) yang tidak akan terpengaruh oleh aktifitas enzym pepsin.

Ditemukan bahwa makanan yang mengandung asam amino ini memproduksi lebih sedikit stimulan yang dapat mengeluarkan banyak asam lambung jika dibandingkan dengan steak yang dikonsumsi subyek normal. Akan tetapi, asam amino tersebut memproduksi stimulasi keluarnya asam lebih banyak jika dibandingkan dengan histamin yang diberikan pada subyek dengan penyakit luka pada usus dua belas jari, seperti halnya yang terdapat pada steak yang dikonsumsi orang biasa.

Penelitian sebelumnya yang mempergunakan daging panggang (steak) sebagai stimulan adalah suatu penelitian yang valid karena dilakukan dengan pH dalam lambung 5.5 dimana tidak ada tindakan pepsin. Penggunaan makanan yang mengandung asam amino pada tes tersebut dilakukan pada level tertentu, serendah-rendahnya 2.5 tanpa adanya gangguan pepsin.

Hasil yang ditunjukkan pada pasien penderita luka pada usus dua belas jari adalah, keluarnya asam lambung tetap tinggi walau pH lambung bagian dalam rendah. Sekresi ini terlihat 2 jam setelah stimulasi dilakukan dengan makanan. Selama 30 menit, subyek sudah mengeluarkan separuh zat asam pada pH 2.5, sementara subyek normal hanya mengeluarkan satu perlima saja. Ketika diberikan penghambat keluarnya zat asam, kira-kira 40% baik dari subyek penderita luka usus dua belas jari dan subyek normal menunjukkan adanya tekanan pada pH 2.5 pada 1 jam pertama. Pada 60 sampai dengan 120 menit selanjutnya subyek normal memperlihatkan 70% penghambat pada pH 2.5, sementara hanya 30% penderita luka usus dua belas jari yang pengeluaran asamnya dapat ditekan.

Bukti yang ditunjukkan sebelumnya memperlihatkan jumlah gastrin yang bisa dilepaskan tubuh karena distimulasi makanan. Pada subyek normal biasanya hal tersebut tidak dilepas dari usus dua belas jari pada saat pH lambung rendah (misalnya pH 2.5). Ada kemungkinan gastrin dikeluarkan dalam usus dua belas jari, pada subyek dengan penyakit luka pada usus dua belas jari, di pH 2.5.

Kemungkinan para penderita luka tersebut mengeluarkan lebih banyak hormon gastrin dibanding dengan orang biasa dilaporkan dalam beberapa grup. Tapi tidak ada pH yang di jaga secara konstan pada penelitian ini. Disarankan demikian karena pH dalam lambung setelah makan, biasanya lebih rendah pada pasien dengan luka di usus dua belas jari, ada kemungkinan banyak hormon gastrin keluar pada penderita penyakit ini.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya ketidaknormalan dari sistem autoregulasi keluarnya asam lambung dan pelepasan serum gastrin pada penderita luka usus dua belas jari. Kecacatan tubuh bagian dalam ini dapat dijelaskan sebagian dengan ketidaknormalan daya tahan lambung pada tekanan yang terjadi karena pelepasan hormon gastrin pada pH rendah.
 

Berita Lain
Diet Sehat untuk Penderita Maag

Masalah kelebihan berat badan bisa dialami siapa saja, termasuk penderita maag. Namun, menjalankan program diet bukan hal yang mudah.... read more

Waspada! Sakit Maag Mengincar Pada Usia Produktif

JAKARTA - Gastritis atau penyakit maag merupakan kondisi yang sangat mengganggu aktivitas dan bila tidak ditangani dengan tepat, dapat berakibat fatal.... read more

Makanan Berlemak yang Baik Untuk Tubuh

 Menghindari makan telur dan daging karena takut gemuk? Telur, daging, dan susu memang mengandung lemak dan bisa menambah bobot tubuh.... read more

Jangan Remehkan Radang Tenggorokan (2)

Mengidentifikasi Penyebab Radang Tenggorokan
... read more

Jangan Remehkan Radang Tenggorokan (1)

Radang tenggorokan atau pharyngitis, adalah suatu penyakit... read more

copyright 2008 Kalbe Farma
kalbe