ARTIKEL

Jangan Anggap Remeh Penyakit Asam Lambung

Print

Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan gangguan pada sistem pencernaan yang cukup kronis. Seperti dilansir dari WebMD, GERD dapat terjadi ketika asam lambung atau isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Hal itu dapat menyebabkan luka serius pada dinding kerongkongan, dan penyempitan pada kerongkongan bawah.

Dalam kondisi normal, kerongkongan bagian bawah atau lower esophageal sphincter (LES) terbuka ketika ada makanan yang masuk menuju lambung, dan tertutup kembali untuk mencegah makanan dan asam lambung naik ke kerongkongan. GERD terjadi karena LES mengalami gangguan, sehingga isi lambung justru naik kembali ke kerongkongan.

GERD bisa menimbulkan berbagai komplikasi, bila tidak ditangani dengan baik. Asam lambung yang tinggi dan naik ke kerongkongan dapat menyebar ke gigi (erosi dental), tenggorokan (faringitis kronis), sinus (sinusitis), saluran pernapasan bawah (asma), bahkan sampai ke paru-paru (fibrosis paru idiopatik).  Perubahan struktur kerongkongan sebagai akibat GERD juga dapat berisiko menyebabkan penyakit Barrett’s, yang merupakan lesi pra-kanker.

“Gejala yang muncul dari penyakit GERD, dan patut diwaspadai, adalah rasa nyeri seperti terbakar pada dada (heart burn), mulut terasa pahit akibat asam yang naik (regurgitasi),” terang Ari Fahrial Syam, MD. PhD, FACP, dari Divisi Gastroentorologi Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Prinsip utama pengobatan GERD, menurut Ari, adalah untuk menghilangkan dan mencegah komplikasi berlanjut, baik dengan tindalan medis maupun non-medis. 

Tindakan non-medis yang dianjurkan adalah mengubah gaya hidup. Misalnya, dengan menghindari konsumsi daging berlebihan dalam waktu singkat, makanan asam dan pedas, kopi maupun alcohol, serta makanan yang mengandung cokelat dan keju. Selain itu, jangan tidur dua jam setelah makan (tidur setelah makan dapat menyebabkan isi lambung berbalik ke kerongkongan), kelola stres dengan baik, serta kontrol berat badan.

Obat-obatan yang dapat dikonsumsi bila mengalami GERD adalah yang dapat memproduksi asam lambung, atau dikenal sebagai anti-sekresi asam lambung.  Obat-obatan tersebut terdiri dari dua kelompok. Yang pertama adalah penghambat reseptor H2 (antagonis H2 reseptor), seperti ranitidine, famotidin, nizatidin atau simetidin. Kelompok kedua terdiri dari obat-obatan anti-asam yang kuat, yaitu penghambat pompa proton, seperti  omeprazol, lansopraol, rabeprazol, eomeprazol atau pantoprazol.

Source: http://www.readersdigest.co.id/info-medis/jangan%2banggap%2bremeh%2bpenyakit%2basam%2blambung