ARTIKEL

Amankah Obat Pelangsing untuk Penderita Sakit Maag?

Print

Ahlinyalambung - Terkadang orang lebih memilih jalan pintas untuk menurunkan berat badan, yakni dengan mengonsumsi obat pelangsing yang sekarang banyak beredar di pasaran. Obat pelangsing memiliki bentuk yang beraneka ragam, mulai dari obat kimiawi sampai dengan suplemen herbal yang diklaim natural dan bisa menurunkan berat badan. Obat-obatan pelangsing tersebut pada umumnya bekerja melalui 3 cara, yakni:

  1. Menurunkan nafsu makan
  2. Mengurangi penyerapan makanan di dalam usus
  3. Meningkatkan pembakaran lemak dan kalori

Semua jenis obat pelangsing tentunya mempunyai efek samping. Di Amerika Serikat, beberapa jenis obat pelangsing ditarik dari peredaran karena mempunyai efek samping yang cukup berbahaya seperti meningkatkan detak jantung, meningkatkan tekanan darah, menyebabkan kecemasan, diare, sulit tidur, kelainan ginjal dan hati, serta perdarahan anus.

Obat pelangsing yang sekarang banyak digunakan dan masuk kategori aman adalah obat yang mengandung orlistat, kafein, dan ekstrak daun teh hijau. Namun obat-obatan tersebut mempunyai efek samping nyeri ulu hati, mual, muntah, perut kembung, dan tinja yang berminyak. Bagi penderita sakit maag tentu saja obat pelangsing untuk penderita sakit maag tersebut dapat memperparah atau memicu terjadinya penyakit maag.

Banyak obat pelangsing yang dijual di pasaran dianggap aman untuk dikonsumsi oleh semua orang. Apabila obat atau suplemen bisa ditebus tanpa menggunakan resep, bukan berarti obat tersebut aman untuk dikonsumsi. Penggunaan obat tersebut harus sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan dan tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat lainnya.

Salah satu hal yang juga perlu diperhatikan dalam mengonsumsi obat pelangsing untuk penderita sakit maag adalah jangan pernah mencampur penggunaan obat pelangsing dengan pencahar karena hal tersebut akan memperburuk penyakit sakit maag kamu. Selain itu, tindakan mencampur penggunaan obat pelangsing dan pencahar juga dapat menyebabkan diare, dehidrasi/ kehilangan cairan, dan ketidakseimbangan elektrolit. Apabila hal tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka akan menyebabkan komplikasi gagal organ seperti ginjal atau hati.