ARTIKEL

Sakit Maag dan KOPI

Print

Sakit maag merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa medis, sakit maag ditandai dengan gejala syndrome dyspepsia yang merupakan gabungan dari rasa nyeri atau tidak nyaman di sekitar ulu hati dan keluhan-keluhan lain, seperti, rasa mual bahkan muntah, perut kembung dan cepat kenyang, nafsu makan yang berkurang, dan sering sendawa.

Sakit maag dapat disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, banyak mengonsumsi jenis makanan dan minuman yang dapat meningkatkan asam lambung, pola makan dan frekuensinya yang tidak teratur, alkohol, merokok serta stress yang tidak dapat ditanggulangi dengan baik. Salah satu minuman yang seringkali dikaitkan dengan sakit maag adalah kopi,  padahal kopi akhir-akhir ini semakin banyak dikonsumsi oleh berbagai kalangan dan usia, terlihat dari menjamurnya gerai kopi dimana-mana.  Beberapa data mengenai hal ini dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian dibawah ini:

  • Konsumsi kopi dapat menyebabkan perubahan  dalam fungsi pencernaan seperti  pelepasan berbagai hormon di saluran cerna, termasuk gastrin, yang menyebabkan meningkatnya sekresi asam lambung, dan dikaitkan dengan gangguan pada saluran pencernaan seperti penyakit refluks gastroesophageal (GERD), nyeri uluhati, dan sakit maag.(i)
  • Tidak ada kaitan antara penggunaan kopi dengan atau tanpa kafein, jumlah konsumsi perhari, cara penyajian, dan riwayat konsumsi kopi sebelumnya terhadap  timbulnya gejala dispepsia.  Hal yang sama juga terjadi pada responden dengan asupan teh, minuman berkarbonasi berkafein, dan obat antiinflamasi aspirin atau nonsteroid juga serupa pada ketiga kelompok.  Namun pada  uji ini tidak dijelaskan mengenai data-data penting lainnya seperti jenis biji kopi yang digunakan, ada tidaknya  penggunaan susu dan penggunaan gula, dan waktu/saat minum kopinya,  sehingga masih perlu dilakukan penelitian lanjutan sehingga hasilnya akan lebih jelas.
  • Asupan kopi dapat meningkatkan resiko infeksi H pylori.(ii)
  • Kopi berkafein terbukti merangsang gerakan usus , 60% lebih kuat dari air putih dan 23% lebih kuat daibanding kopi tanpa kafein.(iii)
  • Kopi, terbukti meningkatkan terjadinya GERD (gastro-oesophageal reflux), namun sepertinya kafein bukan satu-satunya yang bertanggung jawab mengenai hal ini, perlu dilakukan penelitian mendalam lagi mengenai komponen lain dalam kopi yang dapat memicu GERD.(iv)

Kesimpulan

Pemahaman mengenai kopi yang menjadi penyebab dispepsia dan GERD sudah lama diketahui,  namun selain kafein perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai komponen lain dalam minum kopi yang berkontribusi dalam memicu dispepsia dan GERD

i. Papakonstantinou et al. Nutrition Journal (2016) 15:26 DOI 10.1186/s12937-016-0146-0, Acute effects of coffee consumption on self-reported gastrointestinal symptoms, blood pressure and stress indices in healthy individuals

ii. BMJ 1997;315:1489–92

iii. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9581985

iv. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7918922